Dihantam Batang Kayu hingga Patah Tulang Punggung, Wagiman 13 Tahun Terbaring di Tempat Tidur - Koran Digital MATA JURNALIS

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 19 Januari 2021

Dihantam Batang Kayu hingga Patah Tulang Punggung, Wagiman 13 Tahun Terbaring di Tempat Tidur


OGAN ILIR,MJ. - Sesekali Wagiman mengerang kesakitan di bagian punggungnya yang mengalami patah karena kecelakaan kerja, 13 tahun yang lalu.

Wagiman, pria 43 tahun ini merupakan warga Dusun I Desa Tanjung Agas, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir.

Wagiman menceritakan musibah yang dialaminya berawal saat ia dan rekan-rekannya bekerja di panglong kayu di Jalur 9, Banyuasin.

"Saya ingat betul waktu itu kejadiannya hari Selasa tanggal 6 Januari 2008," kata Wagiman mengawali ceritanya saat ditemui di kediamannya di Tanjung Agas, Selasa (19/1/2021).

Saat itu, Wagiman yang sedang berjalan di perkebunan, terjerembab karena kakinya masuk ke dalam lubang.

Naas, di saat bersamaan, rekannya sedang memindahkan kayu lewat permukaan tanah yang miring.

Wagiman yang belum sempat berdiri, lalu dihantam oleh kayu berdiameter sekitar 50 sentimeter dan panjang 2 meter itu.

"Krak! Bunyi punggung saya pas ditabrak kayu itu dari belakang. Saya waktu itu kaget dan sedikit kesakitan," ujar Wagiman.

Setelah insiden itu, Wagiman mengaku sempat berobat ke tukang pijat tradisional, namun tak membuahkan hasil.

Hingga akhirnya Wagiman sempat dirawat di rumah sakit di Palembang dan ia dinyatakan mengalami patah tulang pinggang.

"Hasil rontgen, kata dokter, tulang pinggang dan tulang ekor saya ini sudah tidak nyambung lagi. Hanya dipisahkan daging saja," ungkap Wagiman yang diwawancarai dalam keadaan duduk dengan kedua tangan bertumpu di belakang pinggang.

Tampak patahan tulang Wagiman tampak menonjol di bawah kulitnya.

Menurut Wagiman yang sehari-hari bekerja membuat kerupuk ini, keadaannya itu membuatnya tak bisa berlama-lama duduk.

Jika terasa penat, ia hanya dapat berbaring di tempat tidurnya.

"Beginilah selama 13 tahun, saya berbaring di tempat tidur di kamar saya ini," ungkap Wagiman yang tampak berusaha menampakkan senyum ini.

Untuk menjalankan aktivitas sehari-hari seperti makan dan buang air, Wagiman menggunakan kursi roda dengan dibantu sang ibunda bernama Misiam dan beberapa orang saudara yang tinggal tak jauh dari kediamannya.

Setelah bertahun-tahun menjalani hidup dengan kondisi seperti ini, Wagiman mengaku hanya bisa berdoa kepada Yang Mahakuasa untuk kesembuhannya.

Wagiman juga mengaku selalu berupaya mengatasi rasa sakit di pinggangnya dengan obat pereda nyeri yang dibelinya di apotik di Tanjung Raja.

Dalam sebulan, Wagiman mengaku harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 200 ribu untuk membeli obat pereda nyeri tersebut.

"Kalau tidak minum obat, pinggang ini sakit sekali rasanya. Mau apa-apa, tidak nyaman, malam pun kadang tidak bisa tidur," ucapnya.

Untuk membeli obat pereda nyeri itu, Wagiman mendapat uang dari hasil bagi untung penjualan kerupuk.

Dalam sebulan, Wagiman mendapatkan uang sebesar Rp 300 ribu dari hasil berjualan kerupuk.

"Penghasilan ya segitu. Cukup untuk makan dan beli obat. Ada juga tambahan biaya dari PKH (Program Keluarga Harapan)," ujar Wagiman.

Pria lajang ini berharap baik pemerintah maupun dermawan bersedia membantu membiayai pengobatannya.

Bagi Wagiman, ia ingin sembuh seperti dulu agar dapat mencari nafkah untuk sang ibunda yang sudah tua.

"Saya ingin sembuh seperti saat muda dulu. Saya dulu jago bikin dodol dan enak. Kalau saya sembuh, saya mau berusaha lagi cari uang untuk menyambung hidup. Tidak cuma terbaring seperti sekarang," kata dia.Nwf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here